Pagi itu udara lembap dan panas, seperti biasanya di Pulau Pari. Di bawah naungan pohon besar di seberang rumahnya, Wak Leha berjalan perlahan sambil menahan sakit lutut yang sudah menghantuinya bertahun-tahun. Langkahnya pincang, tetapi tangannya bergerak cepat memindahkan bibit-bibit mangrove ke ember kecil sebelum disiram. Kerudung cokelat menutupi wajahnya yang terbakar matahari. Peluh menetes di dahinya, namun senyum tetap muncul setiap kali ia bercerita, seolah hidup yang keras tidak pernah berhasil mengambil semangatnya untuk terus bergerak.
“Kalau ada yang bikin kesal di rumah,” katanya sambil terkekeh kecil. “Pergi ke laut itu, pikiran saya tenang.”

(Tempat Leha menghabiskan waktunya untuk bekerja setiap hari, mulai dari mengurus mangroove, menganyam jaring, dan mencuci jaket pelampung untuk para wisatawan)
Leha tumbuh bersama laut, namun setelah puluhan tahun hidup dari laut, ia tetap belum dianggap sebagai nelayan. Status itu masih sulit diperoleh bagi banyak perempuan pesisir, meski mereka bekerja di laut setiap hari. Akibatnya, akses terhadap bantuan alat tangkap, pelatihan, hingga dukungan usaha lebih banyak diterima laki-laki.
“Perempuan juga seharusnya diakui sebagai nelayan,” katanya dengan suara tenang namun tegas. “Biar bisa dapat bantuan seperti jaring begitu dan yang lainnya kalau ada dukungan pemerintah.”
Padahal penghasilan dari laut semakin sulit diandalkan. Cuaca berubah, hasil tangkapan menurun, dan biaya hidup terus berjalan. “Dulu ikan dan kerang banyak, sekarang cari saja sudah susah,” ujarnya. Dalam sehari, penghasilannya bisa hanya cukup untuk kebutuhan makan.
Sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu, tidaknya status sebagai nelayan ini semakin terasa dampaknya, karena dia tidak ada modal. Kehilangan itu tidak membuatnya berhenti. Justru dari situ, Leha mulai memutar otak agar keluarganya tetap bertahan. Di usia renta, dia harus bekerja serabutan. Leha mengerjakan apapun yang dapat menghasilkan uang untuk melanjutkan hidup.

(Peninggalan kapal milik suaminya yang meninggal beberapa tahun lalu)
Tanah lapang di seberang rumah menjadi pusat hidup sekaligus tempat ia membangun semuanya kembali. Di sana, bibit mangrove berjajar rapi, jaring-jaring nelayan digantung di dahan pohon besar, dan jaket pelampung dibiarkan kering tertiup angin laut sebelum kembali disewakan kepada wisatawan. Dari tempat itu pula, Leha bisa melihat bangkai kapal suaminya yang kini teronggok di tepi pantai: diam, lapuk, hancur, tetapi belum benar-benar hilang dari hidupnya.
Saat menceritakan suaminya, Leha mengambil satu-satunya foto suaminya yang dia miliki. Ia tersenyum tipis sebelum berkata pelan, “Awalnya saya merasa dia cuma pergi melaut, belum pulang…” Ia berhenti sejenak. “Belakangan baru terasa, tidak ada lagi tempat saya cerita.”
Rumahnya kini dibagi dua: sebagian menjadi homestay sederhana untuk wisatawan, sebagian lagi menjadi ruang tinggal kecil untuk dirinya dan anak perempuannya. Dapurnya lebih besar daripada kamar tidur mereka, dipakai sekaligus untuk memasak, menyimpan barang, dan menyiapkan kebutuhan tamu. Tanpa meja dapur, semua pekerjaan dilakukan di lantai. Dari ruang sederhana itulah ia mengatur penghasilan keluarga mulai dari menyewakan pelampung, menerima tamu, menanam mangrove, hingga tetap turun ke laut ketika diperlukan.

(Ruang dapur sekaligus area bekerja Leha untuk menyiapkan segala kebutuhan tamu yang menginap di penginapan (homestay) sederhananya)
Bagi Leha, bertahan hidup berarti tidak bergantung pada satu sumber penghasilan saja. Ia belajar melihat peluang dari apa yang dimiliki pulau kecil itu: laut yang jernih, pantai yang tenang, dan mangrove yang tumbuh di pesisir. Sedikit demi sedikit, semua itu menjadi cara untuk menjaga dapurnya tetap mengepul.
Namun hidup di Pulau Pari bukan hanya soal mencari nafkah. Ada kegelisahan lain yang terus mengikuti warga: konflik lahan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Ada pihak yang mengklaim menjadi pemilik pulau. Ketidakpastian itu membuat banyak keluarga hidup dengan rasa waswas termasuk Leha, karena mereka tinggal di sana sudah lebih dari lima generasi, dan hanya itu rumah mereka.
Meski begitu, ia memilih tetap bertahan. Bersama kelompok perempuan pesisir lainnya, Leha ikut berdiri di garis depan ketika warga melakukan aksi menolak penyegelan dan mempertahankan ruang hidup mereka. Ia pernah berlari menghindari kericuhan meski lututnya sakit. “Saya lari, padahal kaki sakit. Tapi karena takut, jadi gesit,” katanya sambil tertawa kecil.

(Pantai di seberang rumah Leha, tempat dia biasa menunggu anak dan cucunya yang membantunya mengambil pasir untuk kebutuhan merawat tanaman mangrove.)
Di Pulau Pari, perempuan bukan sekadar pendamping nelayan. Mereka menjadi penggerak ekonomi keluarga, perawat generasi, sekaligus penguat komunitas ketika situasi memburuk. Leha merasakan itu sendiri. Saat sebagian orang memilih pergi, perempuan-perempuan di pulau itu justru saling membantu agar usaha kecil tetap berjalan dan keluarga mereka tetap punya tempat untuk pulang.
Di Pulau Pari, perempuan bukan sekadar pendamping nelayan. Mereka menjadi penggerak ekonomi keluarga, perawat generasi, sekaligus penguat komunitas ketika situasi memburuk.
Setiap sore, sebelum matahari tenggelam, Leha menyiram bibit-bibit mangrove yang tumbuh di samping area kerjanya. Tangannya bergerak perlahan, hati-hati menjaga tunas-tunas kecil itu tetap hidup di tengah cuaca yang semakin panas. Baginya, mangrove bukan hanya tanaman pesisir. Itu adalah cara menjaga pulau, menjaga laut, sekaligus menjaga harapan agar anak-cucunya masih bisa tinggal di sana di masa depan.
“Anak-cucu bisa berkumpul di sini. Tidak perlu ke mana-mana,” ujarnya pelan.
(Leha dan Pulau yang menjadi satu-satunya rumah yang dikenalnya dari generasi ke generasi)
Leha tahu hidup di pulau kecil tidak pernah benar-benar mudah. Tetapi ia juga percaya, selama masih ada kemauan untuk bekerja dan saling menjaga, selalu ada jalan untuk bertahan. Karena itu, meski lututnya semakin sering nyeri dan penghasilannya tidak selalu pasti, ia tetap bangun setiap pagi untuk bekerja.
“Selama badan masih kuat,” katanya sambil menatap laut, “saya akan tetap bekerja.”
Di Pulau Pari, Leha terus bertahan dan mengupayakan hari tua yang lebih tenang dengan tangannya sendiri, di pulau yang sejak lama menjadi rumah dan tempatnya pulang.
Kembali